Loading...

4 Fakta Dokter Evan, Sosok yang Pakai Onderdil Kendaraan untuk Operasi Pasiennya


Menjadi dokter mungkin jadi impian sebagian orang, pasalnya selain bisa menolong orang juga bayaran yang diterima pun luar biasa. Namun demikian ada perjuangan yang mesti dilewati, mulai dari sekolah yang lama hingga biayanya yang tidak biasa. Oleh sebab itu pekerjaan ini jadi profesi yang lumayan langka.
Bicara soal dokter, di Sudan Selatan sana ada sosok yang menjalani profesi serupa namun menggunakan alat yang tidak biasa. Bayangkan saja mulai dari onderdil hingga mesin jahit pun digunakan. Lalu kenapa bisa seperti itu? Simak ulasan berikut.

Dokter yang pakai onderdil untuk operasi pasien

Umumnya seorang dokter diwajibkan untuk memakai peralatan super aman dalam mengoperasi dan merawat pasiennya. Namun siapa sangka salah satu dokter di Sudan Selatan memakai barang tak biasa untuk menyembuhkan orang. Bayangkan saja mulai dari onderdil mobil hingga kail pancing pun digunakan oleh beliau. Dialah Dr Evan Atar Adahar yang memiliki cara yang tak biasa itu.
Dr Evan Atar Adahar [sumber gambar]
Dirinya pernah menggunakan onderdil untuk memperbaiki tulang seseorang. Di waktu lain, dokter ini juga pernah mengotak-atik mesin jahit untuk digunakan operasi. Dan saat kehabisan jarum bahkan Dr Evan sempat memakai kail pancing untuk menjahit pasien.

Semua dilakukan karena keadaan konflik

Bukan tanpa alasan Dr Evan melakukan semua itu, pasalnya kondisi di sana juga yang tidak menguntungkan. Bagaimana tidak, negara Sudan Selatan sendiri baru merdeka tahun 2011 sehingga tentu bakal ada banyak konflik untuk sebuah negara baru. Salah satunya adalah peperangan antaran tentara nasional dengan front pembebasan yang tentu banyak menelan korban.
Karena keadaan konflik [sumber gambar]
Sebagai seorang dokter tentu jadi kewajiban dari Evan sendiri menyelamatkan nyawa seseorang tak peduli dari sisi mana dirinya berada. Keadaan perang jugalah yang membuat alat-alat kesehatan di sana sulit ditemui, belum banyak pasien yang datang ke sana kebanyakan jadi korban perang. Dalam seminggu kurang lebih ada 50 pasien sehingga Evan mesti memutar otak untuk mengakalinya.

Menjadi dokter di Sudan Selatan taruhannya nyawa

Ternyata tidak sembarangan  menjadi dokter seperti Evan, pasalnya dengan keadaan seperti itu nyawa bisa saja jadi taruhan. Sudah banyak masalah yang dihadapi oleh Evan ini, salah satunya saat tentara datang menuju rumah sakitnya. Berbagai ancaman pun juga sempat dirinya terima, namun semua dapat berakhir dengan baik-baik saja karena Evan menjelaskannya dengan baik.
Taruhannya nyawa [sumber gambar]
Ya, apa yang dilakukan semata-mata untuk menyembuhkan orang tak peduli dari pihak mana dirinya datang. Evan bahkan menjelaskan kalau seandainya rumah sakitnya distop dan terjadi apa-apa pada pihak tentara maka dirinya tidak akan bias berbuat apa-apa.

Untuk perjuangannya, penghargaan tertinggi diterimanya

Seperti yang diketahui kalau Dr Evan dalam bekerja menyelamatkan nyawa seseorang juga mempertaruhkan keselamatannya sendiri. Oleh sebab itu sudah sepantasnya gelar penghargaan diberikan kepada dirinya. Alhasil penghargaan tertinggi dari PBB pun diserahkan pada pahlawan yang tak berjubah ini.
Penghargaan PBB [sumber gambar]
Tepatnya UN Refugee Agency’s Nansen Award menjadi bukti bagaimana dirinya bisa membantu orang-orang yang kesulitan di tengah konflik dan mereka yang melarikan diri. Namun demikian bukan berarti kalau dirinya akan berhenti bertugas, pasalnya Evan terus akan mencoba menolong orang sebisa mungkin. Ketika sempat mengajak istrinya datang ke tempatnya kerja, pasangan hidupnya itu juga menyadari atas pengorbanan Evan.
Dokter di Sudan Selatan ini menunjukkan bagaimana sosok pahlawan sesungguhnya. Tak perlu memiliki kekuatan super atau benda ajaib, namun semangat dalam menolong orang yang kesusahan. Tentunya kita berharap akan ada dokter Evan-Dokter Evan yang lain yang peduli sesama.
Loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "4 Fakta Dokter Evan, Sosok yang Pakai Onderdil Kendaraan untuk Operasi Pasiennya"

Posting Komentar