Loading...

Cersex Terbaru, Selingkuh dengan Nina Pembantuku Part 2

Cersex terbaru ini merupakan kelanjutan dari kisah sex perselingkuhan pada part sebelum nya, jika sobat belum membaca nya, supaya nyambung sama cerita seks nya, silahkan baca dulu disini : Cersex Selingkuh dengan Nina,Pembantu ku yang mengairahkan .

cersex terbaru main enak dengan pembantu

Esoknya aku terbangun dari tidurku dengan perasaan kaget, seakan tidak sadar dengan kondisi sebelumnya. Aku merasa kaget karena terbangun sendirian dan mendapati tubuhku telanjang, tapi menggunakan selimut. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Perlahan aku mulai ingat, bahwa tadi malam aku minum Jack Daniels dan mengerjai Nani.

Aku melihat sekeliling, tak ada orang dikamarku selain diriku. Kulihat jam sudah pukul 8 pagi, hari itu hari sabtu, sehingga aku tidak bekerja.

Kemudian aku melihat baju dan celana pendekku beserta cd ku sudah terlipat rapi dipinggir tempat tidurku.
'Pasti nani yang melipatnya..' dalam hatiku.

Aku berpikir sejenak, menghilangkan keraguanku untuk bangun dari ranjangku.
Beberapa saat setelah itu, aku mengangkat badanku, memakai cd, celana pendek, baju, dan melangkah keluar dari kamarku.

Aku melihat sekeliling rumah, tetapi tak kulihat satu orangpun. Kulihat di meja makan, ada satu gelas teh dan roti bakar yang sudah disiapkan.
'Pasti ini disiapkan oleh nani..' dalam hatiku.


Cersex terbaru, cerita seks, cerita ngesex,cerita bokep - Akupun meneguk teh yang sudah agak dingin itu dan menghabiskan dan roti bakarnya. Sambil berpikir dan memandang sekeliling rumahku, aku menghabiskan sisa tehnya.


''Cersex Terbaru, Selingkuh dengan Nina Pembantuku Part 2''
Rumahku benar2 sepi, aku beranjak dari dudukku dan melongok keluar rumah melalui jendela, dihalaman pun tidak ada orang. Aku juga tidak melihat mobilku di garasi rumahku.
'Semua sedang pergi kemana ini..?' dalam hatiku.

Kemudian aku memutuskan untuk menyegarkan badanku. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi dan selanjutnya menyiram badanku dengan air hangat yang mengucur dari shower.
Kaos rumahan bergambar VW kodok dan celana pendek selutut kupakai setelah aku menyegarkan badanku.

Sambil berjalan keluar rumah, kunyalakan rokokku dan menghempaskan badanku di kursi teras. Mencoba mengingat kembali apa saja yang tadi malam terjadi.

Perlahan-lahan ingatan itu kembali, dan akhirnya setiap detail ke'nakalan'ku kepada Nani muncul dalam ingatanku.
'Aku akan dapat perawanmu hari ini nan..' pikirku dalam hati.

Aku meyakini kalau aku pasti bisa mendapatkan keperawanannya hari ini. Karena buktinya, sudah tiga kali Nani aku petting, di sofa, di dalam kamarnya dan terakhir tadi malam di kamarku, petting maksimal, alias “ngentot ringan” (hehehe…) meskipun Nani terlihat tidur sepanjang kenakalanku, tapi aku bukan orang bodoh. Terlihat jelas bahwa Nani hanya berpura-pura tidur, bahkan justru reaksi tubuhnya menunjukkan bahwa dia menikmatinya.

Bukti lainnya, tidak ada tanda keberatan ataupun protes kepada siapapun tentang hal itu, bahkan tadi pagi Nani sempat melipatkan semua bajuku.

Kalau memang Nani tidak setuju terhadap kenakalanku, kenapa tadi pagi dia tidak terkejut saat terbangun dari tidurnya, melihat tubuhnya bugil satu selimut denganku? Semua pikiran itu bercampur aduk menjadi satu di kepalaku.

Akhirnya aku mendapatkan suatu kesimpulan bahwa Nani juga menginginkan persetubuhan terlarang ini. Persetubuhan dengan majikannya sendiri, yang kemungkinan selama ini dia idolakan juga, sehingga Nani rela menyerahkan keperawanannya pada majikannya itu (betul ga para pembaca? Mana ada cewe yang rela memberikan keperawanannya buat pria yang tidak disukainya..? kecuali masalah duit..hehe..).

Satu jam lamanya aku berpikir dan menganalisa, tiba-tiba rasa kantuk menghampiriku, dan aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur, untuk merebahkan diriku di kamar dan menonton TV, tak terasa kesadarankupun hilang.

Terbangun pukul 11.00 siang, rasa penasaranku timbul, apakah sudah ada orang dirumah. Aku bangkit dari kasurku dan keluar kamarku, masih terlihat sepi rumahku. Akan tetapi, sewaktu pandanganku melewati kamar Pak Ata, aku melihat Nani sedang duduk melantai sambil menyetrika baju disitu.
'Aaahhh...nanii..' dalam hatiku.

Kamar Pak Ata juga digunakan sebagai tempat menyetrika pakaian keluargaku.
Lalu kudatangi kamar Pak Ata, dan berdiri dipintunya. Nani melihatku sayu sambil tersenyum kecil. Akupun membalas senyumannya.

"Pada kemana semua orang nan..?" tanyaku pelan.
"Pak ata nganter diana kerumah tante Dea.." jawab Nani, maksudnya kerumah adik sepupu istriku yang memang tidak jauh rumahnya dari rumah kami.
"Lho..kamu ngga ikut..?" tanyaku.

"Engga pak.." jawabnya singkat sambil terus menyetrika baju.

"Trus, tadi pagi kok ngga ada semua..? kamu kemana..?"
"Tadi pagi nani belanja sebentar kedepan pak..." jawabnya lagi.
Terjawab sudah rasa penasaranku.
"Trus, pak ata sama diana tadi berangkat jam berapa..?"
"Jam 8 pak.." jawabnya.


'Sebelum aku bangun tadi berarti..' dalam hatiku.
Berarti sekarang hanya aku berdua dengan Nani dirumah. Biasanya Diana kalau kerumah Dea memang agak lama, karena biasanya bermain dengan anaknya Riska.
'Ini adalah waktu yang tepat....' dalam hatiku.

Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung melancarkan niatku, aku tau Nani sudah sadar dengan kondisi kami saat itu, hanya berdua dirumahku, tanpa ada gangguan dan waktu yang Panjang. Aku juga yakin dia sudah siap untuk menyerahkan semua yang dimilikinya padaku.
"Naan..." kataku pelan.

"Iya paak.." katanya sambil menatapku sayu.
"Tolong pijetin bapak nan..kepala bapak pusing.." kataku padanya sambil menjulurkan tanganku (modus standard para pemburu wanita, minta dipijetin untuk bisa meniduri korban..haha..).
"Yuuk...." ajakku lagi padanya.

Nani melihatku sayu tanpa berkata-kata dan kemudian perlahan pandangannya turun ke setrikaan, mematikannya dan mencabut listriknya.

Dengan perlahan Nani kemudian beranjak dari duduknya dan dengan ragu meraih tanganku. Aku langsung menyambutnya lalu kamipun bergandengan tangan, kutarik pelan tangan Nani, sambil duduk di sofa.

"Kamu dibelakangku sini nan.." kataku sambil mengarahkan Nani untuk mengambil posisi dibelakangku. Nani menurutiku dan kemudian mengambil posisi dibelakangku.
"Pijetin kepala bapak ya.." kataku lembut.

Tanganku mengarahkan tangannya ke kepalaku. Nanipun menurutiku dan mulai memijat kepalaku pelan.
Nani tidak bekata-kata, diam seribu bahasa, sambil terus memijatku pelan. Pijatannya di kepalaku cukup nyaman kurasakan, tapi bukan itu tujuanku.

Tak berapa lama kupegang kedua tangannya dan kuturunkan ke pundakku.
"Pundak bapak ya nan.." kataku padanya.
Nanipun menurutiku, dan mulai memijat pundakku.

Badanku agak sedikit kutegakkan tetapi tetap besandar ke sofa. Karena sandaran sofaku pendek, leherku tidak tersandar sofa. Kedua tanganku tetap memegang kedua tangan Nani yang sudah mulai memijat.
Kuelus-elus pelan kedua tangan Nani, kulitnya terasa lembut dijari-jariku. Karena aku tau badan Nani agak merapat ke badanku, dengan pelan aku menyandarkan kepalaku kebelakang. Pas sekali, kepalaku tersandar di toket besarnya Nani.

'Hhhmmhhhh...empuk banget' dalam hatiku.

Nani tidak bergerak dan tidak berbicara, dia mengikuti semua permainanku. Tangannya terus memijat pundakku pelan, meskipun dia tidak benar-benar serius memijatku.
Aku yakin Nani sudah faham dengan kejadian yang akan terjadi berikutnya.

Tanganku masih mengelus-elus kedua tangannya sampai ke lengannya, kadang jari-jariku menggaruk lembut tangannya, kurasakan deru nafas Nani di rambutku semakin memburu. Kontolku spontan menjadi tegang dibalik celanaku. Aku menyadari bahwa ini adalah saat yang tepat untuk memulai semuanya.
Kupegang tangan kiri Nani dan kutarik pelan kearah samping.

"Sini nan..dari depan aja.." kataku pelan sambil menengok kearahnya.
Nanipun menurutiku, dia beranjak dari posisinya dan berjalan melingkari sofa dan berdiri dihadapanku. Kupegang pinggulnya dengan kedua tanganku sambil menariknya ke arahku.

"Sini nanhh...naikk.." kataku lirih, sambil menarik pinggul Nani untuk naik diatasku.

Dengan ragu, Nani menaikiku, melangkahkan kedua kakinya, dan kemudian duduk di pangkuanku. Selangkangannya berhimpitan dengan selangkanganku, memeknya yang masih tertutup celana pendeknya menekan kontolku yang juga masih tertutup celana.

Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, meskipun dengan posisi seperti ini, wajah kami berdua hampir sejajar, hanya lebih tinggi wajah Nani sedikit saja.

Nani tidak berbicara, dia hanya memandangku layu, seakan sudah siap untuk kuberi perintah apa saja. Kuraih pipinya dengan tangan kananku, dan menarik wajahnya pelan, sambil wajahku kudekatkan kewajahnya.

“paaaak….mau ngapain..?” kata Nani lembut sambil kedua tangannya menahan dadaku pelan.
“mau cium kamu sayaang...” jawabku sambil terus mengarahkan bibirku ke bibirnya..Nanipun mengendurkan dorongan kedua tangannya dari dadaku sampai akhirnya bibirku bertemu dengan bibirnya, lalu kamipun berciuman.

'Cuuuppmmhh... mmmmhhhhhh... mmmhhhh... mmhhhhhh....' Suara ciumanku di bibir Nani.
Kumainkan bibirku di bibirnya, lidahku kumasukkan kedalam mulutnya. Tak berapa lama, Nani mulai menikmatinya, dan lidahnyapun mulai mengimbangi lidahku.

Tangannya mulai berani merangkul leherku, kedua tanganku mengelus-elus punggung Nani. Dan kamipun berciuman dengan penuh hasrat.
'Mmmmmhhhhhhh... mmmmmmhhhh... sllrpphhhmmmhhhhhh....'

Nani sudah mulai menikmatinya, aku tau ini adalah ciuman pertamanya, tapi dia cepat belajar. Kadang kuhisap bibir atasnya, bibir bawahnya. Lidahnyapun tak luput dari sedotan bibirku. Kulihat Nani begitu menikmatinya, kedua matanya terpejam saat aku membuka mataku.

Cukup lama kami berciuman, sampai akhirnya kulepaskan ciuman kami, sambil sekali lagi kucium lagi bibir merekah sexy nya.
'Ccupppmmhhhaahhh...' suara ciumanku di bibir Nani.
kemudian kamipun saling memandang sayu.

"Buka bajunya ya.." kataku pelan sambil mencoba mengangkat kaos Nani keatas.
Nani menahan tanganku, “jangan pak..” katanya lirih, “nani takut pak..”
“ngga usah takut sayaang..ngga apa apa kok..ya..? buka ya bajunya..?” desakku.
Aku sudah tidak tahan, bagiku ini adalah ‘no turning back moment’..

Tanpa menjawab lagi, Nani melepaskan tanganku dan membiarkan aku mengangkat kaosnya, dan melepaskannya dari tubuhnya.

Kedua toket besarnya yang tertutup BH berwarna merah terpampang didepan mataku. BH nya seakan tidak mampu menampung kedua toket besarnya. Lalu Nani dengan cepat menutupi toketnya dengan kedua tangannya. “paaak..nani malu…” katanya lagi.

“ngga apa apa sayang..” kataku sambil menarik tangannya lembut untuk melepaskannya dari toket besarnya, dan diapun menurutiku.

Lalu dengan lembut langsung kuciumi bagian dadanya yang tidak tertutup BH.
'Cccupppmmm... cupppmmhh... cupphh..mmmmhh….' gumamku.

aku tidak mau menunggu lagi, tangan kiriku lalu kuarahkan ke punggung Nani dan meraih kait BH nya, dengan sekali gerakan jempol dan jariku, kait BH nya terlepas, dan akupun menarik BH nya lolos dari kedua tangannya, lalu mencampakkannya di lantai.

Lalu aku menghentikan ciumanku di toketnya, dan mengarahkan pandangan mataku ke kedua toket besarnya.

Sekali lagi dengan cepat Nani menutupi kedua toketnya dengan kedua tangannya. “bapaaaak..jangan..nani malu paaak…” katanya lagi.
“ngga usah malu sayaaang..jangan ditutup ya..” sambil tanganku meraih kedua tangannya untuk melepaskan kedua toketnya. Dengan ragu Nani menurunkan tangannya, dan terlihatlah dengan jelas kedua toket Nani yang indah itu.

Kedua toket Nani sekarang tergantung bebas didepan wajahku, sungguh membuat dadaku berdesir. Bulat, besar, putih bersih, kencang, dengan pentil yang tidak terlalu besar dan lingkar pentil yang sedang berwarna coklat muda. “seksinya kamu sayaaang…” kataku padanya.

 Sambil kedua tanganku mengelus-elus kedua toket besarnya dari atas sampai kebagian bawah toketnya. Kemudian kedua tanganku mendorong kedua toketnya ke tengah dan akuk mengarahkan bibirku ke pentilnya.

'Mmmhhh...mmmhhhhh...slllrpppmmhhhhh..mmmmhhh...' Gumamku geram ketika mulutku langsung menyerbu kedua pentilnya, kanan dan kiri bergantian.

Kedua tanganku meremas-remas gemas dadanya, saat aku mengulum pentil yang kanan, tangan kiriku memilin-milin pentil yang kiri, kemudian bergantian. Kedua tangan Nani mulai merangkul kepalaku dan mengusap-usap rambutku. Sesekali kepalanya ditengadahkan keatas memperlihatkan rasa nikmat yang mulai merasukinya.

"Hhhhhhh....bapaaaaaaakkhhh...hhmmhhh...." desahnya pelan.

Setelah lama kumainkan toketnya, aku menarik wajahku, dan kuarahakan pandanganku ke wajahnya, kutatap wajahnya yang sudah sayu dan mulai terbakar nafsu, “nikmatin aja ya sayaang..ngga usah malu..” kataku padanya, sambil tangan kananku mengelus pipi kirinya, Nani menjawab dengan mengangguk pelan dan tersenyum padaku, lalu kamipun berciuman kembali.

'Mmmmmhhh.. mmmmmhhh...mmmhhhhh..' gumam kami berdua. Pada titik itu, akhirnya aku merasakan bahwa Nani sudah tidak akan melarangku melakukan apa saja terhadapnya, Nani sudah benar-benar pasrah padaku.

Ciuman kami terus berlanjut, Nani sudah mulai mahir dalam berciuman, lidahnya sudah mulai bermain di rongga mulutku Terkadang kusedot dalam-dalam lidah Nani, diapun terkadang berbuat hal yang sama. Ciuman kami begitu bergelora dan penuh hasrat.
Kemudian kulepaskan pagutan bibirku dari bibirnya.

"Sini nanh...duduk sini.." kataku padanya sambil menepuk bagian sofa yang kosong di sampingku.
Nani menurutiku, beranjak dari pangkuanku, dan merebahkan dirinya di sofa.
Sofaku cukup besar dan sangat empuk, memang model sofa yang bisa digunakan untuk tidur apabila dipanjangkan bagian bawahnya. Dan saat ini, sofaku akan menjadi saksi bisu kegiatan pergumulanku dengan Nani.

Setelah Nani merebahkan diri, aku segera melepaskan kaosku dan menindihnya, dan kamipun kembali berciuman.

'Mmmhhh.. mmmmhhhh... sllrppmmhhhh... ccppmmhhhh...' suara gumaman ciuman kami.
Kami berdua sudah terbakar nafsu, permainan kami semakin memanas, ciuman bibirku dan jilatan lidahku menyapu lehernya.

"Hhhhhhhhggghhh... mmmhhh...." Nani mendesah pelan.
Kemudian kuangkat kedua tangannya dan kusapu kedua ketiak mulusnya dengan ciuman dan jilatan bibirku, lalu selanjutnya ciumanku turun ke arah kedua toketnya lagi, kukulum pentilnya lagi, kanan dan kiri. Kupilin-pilin kedua pentilnya itu, sambil kuremas-remas pelan kedua toketnya. Sungguh gemas rasanya aku dengan toketnya itu.

Setelah puas mengulumi kedua toketnya, ciumanku turun ke perutnya, sambil kedua tanganku meraih celana pendeknya, dan mulai menariknya kebawah, sekaligus dengan cd nya.

Nani tidak menolak sama sekali, bahkan Nani mengangkat pinggulnya untuk memudahkanku meloloskan celana pendeknya.
Hingga akhirnya loloslah celana pendek beserta cd nya dari tubuh Nani dan kucampakkan saja ke lantai.
'Aaahhhh..sungguh mempesona tubuh pembantuku ini..' dalam hatiku.
Semok, bersih dan putih, sangat menggairahkan sekali.

Seluruh tubuh sexy nya sangat jelas sekali terlihat karena suasana terang disiang hari. Wajah manisnya terlihat sayu, sangat menggemaskan dan membuat bulu kudukku berdiri.

Kubuka kedua kakinya, sehingga tersuguh pemandangan yang tiada duanya. Memek Nani yang agak tembem, masih terlihat rapat sekali, diatasnya dihiasi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Bibir memeknya bersih sekali dan berwarna merah muda merona. Sungguh pemandangan yang menggairahkan.

Akupun tak menunggu lama, segera kubungkukkan badanku dan ku arahkan mulutku ke bibir memeknya. Kemudian langsung kukulumi dan kujilati dengan lembut dan penuh gairah.

'Mmmmmhhh.....sslllrrrpppmmhhh...mmmhhhh....' gumamku sambil mengenyoti dan menjilati memek Nani.
"Aaaahhh...hhhmmhhhh....paaaaakkhhh..." desah Nani pelan.

Mendengar desahannya aku semakin menggila dan semakin ganas mengerjai memek perawannya itu.
Kedua tangannya memegang kepalaku, seakan mengatakan jangan lepaskan.

Memeknya sudah basah sekali, basah dengan air liurku bercampur dengan cairan memeknya. Nani sudah sangat bernafsu. Aku tak mau berhenti, aku ingin Nani merasakan kenikmatan klimaks pada jimekanku ini. Intensitas kuluman dan jilatanku tidak mengendor.

'Sssllrrppmmhhh..mmmmmhhhhh..mmmmhhhhh....mmmmmhhhhh.....' suara mulutku di memeknya.
"Aaaaahhhh..bapaaaakkhhhhh...hhhssshhhhh....aaahhhh..." desahnya lagi.

Tangannya meremas kepalaku, mendorong-dorong ke memeknya, nafsunya sudah mulai memuncak. Kutekan-tekan bibirku, kusapu belahan memeknya dengan lidahku, itilnya kuemut dan kusedot. Kadang kumainkan batang hidungku yang cukup mancung ini dibelahan memeknya, naik dan turun searah dengan belahan memeknya. Dan akhirnya, kurasakan badan Nani menegang, tangannya mencengkram kuat kepalaku seakan mau menanam mukaku di memeknya.

"Hhhhgghhh... hhhgggghhhh...mmmhhhhhh..aaaaahhh...paaakkhhhhhh......." desahnya, badannya mulai kelojotan.

"Hhhggggghh..! hhggggghhh...! Hhggggghhh..!hhhggghh...!" desahnya tertahan sambil badannya mengejang berkali kali.
Nani mengeluarkan cairan kewanitaanya.

Kuhisap memek Nani dalam-dalam, kuhisap semua cairan yang keluar dari memeknya, sungguh nikmat sekali meskipun agak asin kurasakan.

Kemudian perlahan badan Nani mulai melemas.
"Bapaaaaakkkhhh....." desahnya lirih sambil melihatku sayu.
Cengkraman tangannya mengendor, wajahnya terlihat lemas sekali.

"Enak naaanhh...?" tanyaku sambil melihatnya dan senyum menggodanya.
"Hhhmmhhhh...bapaaakkhh..." katanya sambil tersenyum kecil kepadaku dan mencubit tanganku pelan.
'Aku sudah memberikan kepuasan padanya..sekarang giliranku..' dalam hatiku.

Akupun bangkit dari sofa, lalu berdiri dilantai menghadap kearah Nani dan membuka celanaku. Kontolku yang sudah tegang dari tadi akhirnya terbebas.

Nani kaget melihat kontolku yang sudah berdiri tegak dan secara spontan menutup matanya dengan kedua tangannya, sambil berteriak kecil, “hiii..bapaak..!”, aku tgersenyum kecil, kepolosannya membuatku merasa semakin gemas padanya, mungkin karena baru ini dia melihat kontol laki-laki dewasa.

"Duduk nanhh..." kataku lirih sambil menarik tangannya. Nanipun melepaskan tangannya dari kedua matanya, mengambil posisi duduk didepan kontolku. dan melihat kontolku dengan seksama, seakan tertegun dengan apa yang ada di hadapannya. Lalu kemudian aku mengarahkan tangannya untuk memegang kontolku.

"Pegang nanh..." kataku.
Nani dengan pelan memegang kontolku dengan tangan kanannya dan menggenggamnya. Tangan kananku memegang kepala Nani dan mengusapnya pelan.
"dicium ya sayanghhh.." kataku lirih.


"Ngga mau ah paak...." katanya pelan sambil melihatku lirih.
"Kok ngga mau..? bapak aja tadi udah nyiumin punya kamu kan...? Sekarang gantian dong...?" kataku padanya.

Keragu-raguan sangat nampak pada muka polosnya.
"Ayo sayanghh...ciummhh.." ujarku lagi sambil memajukan pinggulku kearah wajahnya, dan tanganku menarik pelan kepalanya menuju kearah kontolku.

Nani tidak memberikan perlawanan berarti, dia tau dia harus melakukannya karena aku juga telah berbuat hal yang sama kepadanya.

'Cuuppp...' Nani mencium kepala kontolku yang sudah agak basah.
"Hhhmmmhhh..." gumamku.
"Buka mulutmu nanhh..." kataku lagi.

dengan ragu Nani membuka mulutnya, lalu setelah melihat mulutnya terbuka segera kudorong kontolku masuk kedalam mulutnya.
"hhmmppfhh..." gumamnya.

Kumajukan pinggulku perlahan, mendorong batang kontolku untuk masuk kedalam mulut sexy nya. Perasaan nikmat mengalir didalam tubuhku, meskipun kontolku terasa linu karena terkena giginya.
"Jangan kena gigi nanh..." kataku lirih.

Nanipun mengatur mulutnya sehingga giginya tidak mengenai kontolku.
Kupegangi kepalanya dengan kedua tanganku, dan kumaju mundurkan kepalanya berulang kali. Tak berapa lama Nani memahami keinginanku, selanjutnya kepalanya mulai maju mundur dengan sendirinya.
"Aaaaaahhhh...hhmmmhhhh...iyahhh..gitu sayangghh..aahh..." gumamku sambil melepaskan tanganku dari kepalanya.

Nani memaju mundurkan kepalanya terus, sehingga batang kontolku keluar masuk dimulutnya. Kuarahkan tangan kirinya untuk memegang telorku dari bawah, lalu Nani dengan sendirinya mengusap dan mengelus-elus telorku. Tangan kanannya dirapatkan ke pangkal kontolku untuk menahan jembutku, sambil mulutnya mengocok batang kontolku dengan pelan dan teratur.

"Iyaaaahhh..gitu sayaangghhh...aaaaahhhh...enak bangeetthhhh..." desahku.
Kedua tanganku kuarahkan untuk meremas kedua toketnya yang menggantung bebas, dan jari-jariku memilin-milin pentilnya. Beberapa saat setelah Nani mulai mengerti cara mengoral, kutarik pelan kontolku dari mulutnya.

"Sini nanh...jongkok didepan bapak.." kupegang tangannya, sambil aku duduk di sofa dan memberikan instruksi pada Nani untuk turun dari sofa dan berlutut di lantai, didepanku.
"Ayo..isep lagi nanh..." kataku lirih, setelah Nani berlutut didepanku.

Nanipun meraih batang kontolku dan langsung mengulum kontolku dari depan.
"Mmmmmhhh....mmmmhhhh...ssslllrrppmmmhh..." gumamnya sambil menaik turunkan kepalanya.
"Aaahhhh..nnaaannhh...sshhiiitttt..." racauku menerima kulumannya.

"Kocok pake tanganmu sayanghh.." kataku lagi sambil mengarahkan tangan kanannya yang memegang batang kontolku.

Nanipun menghentikan kulumannya dan mulai mengocok kontolku pelan.
"Aaaahhhh...he-eehhhh...gituhhhh...enak bangeett naaanhhh..." desahku.
"Isep lagi nanhhh..."

Nani kembali mengisap kontolku, kepalanya naik turun dikontolku, kedua tanganku meraih kedua toketnya dan meremas-remasnya. Sesekali Nani menghentikan kulumannya dikontolku dan mengocoknya, kemudian mengulumnya lagi.

'Aaaaahhhh..sudah mulai mahir kamu ya nanhh...' pikirku.
Permainan mulut dan tangan Nani selama hampir setengah jam. Membuat kontolku merasa ingin segera mengeluarkan cairan kenikmatannya.

"Naaannnhh...aku mau keluarrrhhhh...!" desahku tertahan.
"Isep nanti yahhhh..!" desahku lagi.
Nani melirikku sambil terus kepalanya naik turun.

"Hhhhhgggghhhhhh........" desahku yang sudah hampir sampai dipuncak kenikmatan.
"Hhgggghhhh...!hhhgggghhh...!" gumamku sambil kedua tanganku mencengkram kepalanya.
'creeet.... ccrreeettt... crreeetttt... crreeettt.... crreett..!' keluar semua maniku dalam mulut Nani.
Mata Nani terbelalak, mencoba untuk menarik mulutnya, tapi tidak berhasil karena kedua tanganku mencengkram kepalanya.

"Telen sayangh..telen ajahhh..." ujarku pelan sambil melihatnya.
Kemudian kulihat Nani menelan semua air maniku.

"Hhhhggmmhhh.." desahnya sambil menghisap lagi habis maniku, kemudian menelannya, dan melepaskan kontolku dari mulutnya.

"Aaaaaaahh..bapaakhh.....pait tau..." katanya manja padaku sambil mencubit pahaku.
"Maap sayaaaang..habisnya enak bangeth sih isepanmu nanhhh...hhhh...." kataku.

"Sini...duduk sini nanh.." kataku lagi sambil menarik tangannya untuk bersama-sama duduk ke sofa.
Nani naik ke sofa, duduk disampingku, merangkulku dan kamipun berciuman kembali.
'mmmmmhh...mmmmmmhhh....' suara ciuman kami mesra.

'Selesai ronde pertama.. sebentar lagi akan kulanjutkan ronde kedua..' dalam hatiku.
Kami menyudahi ciuman kami dan mengatur posisi di sofa.

Nani merebahkan diri disebelah kananku, merebahkan badannya miring dan bersandar padaku, kepalanya diletakkan didada kananku. Karena posisi dudukku memang agak merebah ke sofa, sehingga tangan kananku merangkul perutnya.

"Hhhhmmhhhhh.....enak nanhh...?" godanku.
Nani menoleh padaku sambil tersenyum genit dan mencubit perutku.
"Iiihh..bapakhh...nakal banget sih..." katanya manja.

"Itu belum seberapa enaknya nan.. nanti bapak kasih kamu yang lebih enak lagi..." godaku lagi sambil tangan kananku meremas toketnya.

"Mmmmhhh.. bapaakkhhh..." desahnya pelan.
Kemudian tangan Nani meraih kontolku yang sudah mengecil.
"Kok jadi kecil lagi pak ininya bapakh..?" tanyanya polos.
Nani sudah mulai genit dan manja padaku.

"Iya nan..istirahat dulu dia..nanti bentar lagi dia bangun lagi..siap tempur lagi.." candaku.
"Hihi..emang mau perang pak..?" katanya manja sambil meremas gemas kontolku.

Aku mengambil rokokku yang ada dimeja makan yang posisinya hampir menempel dibelakang sofa, sehingga bisa kuraih tanpa harus beranjak dari sofa. Kuyalakan rokokku dan menghisapnya dalam sambil menunggu kontolku siap lagi beraksi untuk ronde kedua (ronde perenggutan keperawanan. Hehe..).
"Paaak..." kata Nani manja.
"Iya nanhh.." jawabku.

"Nani takut hamil..tadi nelen punya bapakh..." katanya polos.
Akupun tertawa kecil.

"Nann..kamu ngga akan hamil kalo cuman nelen air mani bapak....tapiii......kalo bapak muncratin mani bapak didalem ini kamuuu..." sambil tanganku meraih memeknya dan menekannya lembut.
"Aaauu..." jeritnya kecil.
"Baru kamu bisa hamil..." kulanjutkan kalimatku.

"Jadi kamu ngga usah takut hamil nan...ngga akan hamil kamu.." kataku lagi padanya.
Nani hanya mengangguk kecil sambil tangannya diputar-putarkan diperutku.
Untuk sesaat kami diam sejenak. Kuhisap rokokku sambil menikmati suasana ini. Kuusap-usap rambut Nani, kuleus-elus lengan dan pinggulnya. Nani terlihat sangat menikmati perlakuanku itu.
Beberapa saat kemudian rokokku habis, dan aku mematikannya di asbak yang ada dimeja makanku.
"Naannhh..." kataku lembut.

Nani menoleh padaku, kutarik dagunya kearahku. Nani menyesuaikan posisinya, dan kamipun berciuman kembali.

'Mmmmmhhhhh..mmmmmhhh..mmmmmmhhhh..' suara ciuman kami berdua.
Kuremas remas kedua toketnya, kupilin-pilin kedua pentilnya dengan kedua tanganku. Kontolku sudah mulai bereaksi dan bangun kembali.

lalu kulepaskan ciuman kami, "Nan..isep lagi ya punya bapak nih.." kataku padanya.
Tangan kiriku memegang kontolku yang belum sepenuhnya tegang.
Nanipun menurutiku, kali ini tanpa argumen lagi. Nani membungkukkan badannya, memegang kontolku, dan langsung mengulumnya.

'Mmmmmhhhh...mmmmhhhh..mmmmhhhh...' suaranya sambil kepalanya naik turun.
Tangan kanannya mengelus-elus telorku, posisi tubuhnya menungging disampingku.
"Aaahhh...iya Naaanhhh...enak bangeetthhhh..." desahku.
Sungguh nikmat kurasakan dikontolku oleh isapan-isapan lembut Nani, meskipun Nani mengulum kontolku dari samping kananku.

Tanganku kananku meremas-remas toketnya yang menggantung bebas, sesekali kuelus punggung mulusnya, sampai ke pantatnya. Lalu kuarahkan jemariku ke arah memeknya, lalu kuusap-usap memeknya.
Kontolku sudah mulai menegang kembali, meskipun agak linu sedikit kurasakan, tapi sudah siap bertempur kembali.

Aku menarik Nani, memberi isyarat untuk menyudahi kulumannya dikontolku. Kutarik Nani ke pelukanku, dan kamipun kembali berciuman.

'mmmmhhh...mmmmhhhh...mmmhhhhh...' gumam kami berdua.
Kurebahkan tubuhnya di sofa, dan kuposisikan tubuhku diatasnya.

Ciumanku turun ke lehernya, kusapu lehernya dengan ciuman dan jilatan lidahku, lalu turun ke toketnya. Kuremas pelan kedua toketnya, sambil kukulum pentilnya, kanan dan kiri. Aku sangat bernafsu memainkan kedua toketnya, dan aku yakin Nanipun merasakan hal yang sama, karena kedua pentilnya kurasakan sudah mulai mengeras.

"Hhhhmhhhhhhh...." desahnya pelan.
Bibirku semakin menurun kebawah, ke perutnya, dan sampailah bibirku di memeknya. Langsung kujilati dan kukulum memeknya.

"hhhgggghhhhh...paaakhhhh...." desah Nani sambil kedua tangannya mulai memegang kepalaku.
Kuhisap, kukulum dan kujilati memeknya, Nani mulai kelojotan. Memeknya mulai basah oleh cairan pelumas kewanitaannya. Saat yang sangat tepat untuk menancapkan kontolku di memeknya.

Tanpa menunggu lagi aku menyudahi kulumanku dan mengambil posisi berlutut didepan memeknya.
Kuatur posisiku dan memegang kontolku dengan tangan kananku, kemudian kutempelkan kepala kontolku di bibir memek Nani dan kuusap-usap pelan memeknya dengan kepala kontolku, dari atas kebawah, kadang kuputar-putar di bibir memeknya.

"Hhhgggggghhhhhh...bapaaaaaakkkkhhhhh..." desahnya sambil melihatku sayu.
Kedua tangannya memegangi lututnya, karena posisinya ngangkang, dan kedua kakinya ditekuk. Arah matanya kemudian dialihkan ke selangkangannya, dan melihat apa yang kulakukan dengan kontolku di memeknya.

Lalu kutanamkan kepala kontolku didalam memeknya.
"Aaaakkkhhh..." katanya pelan.

Aku merebahkan diriku diatasnya sambil mencium bibirnya, dan kamipun kembali berciuman.
'Mmmmhhhh...mmmhhhh...mmmmhhhh...' gumam kami berdua.
Kubiarkan posisi kontolku seperti itu dulu. Lalu aku menghentikan ciumanku dan kemudian menatap mata sayunya.

Kami saling berpandangan sejenak, lalu dengan perlahan kudorong masuk batang kontolku ke dalam memek Nani.

Sleeeepp....
"Aaaaaahhhh.....paaaaaakkhhh...sakiiitttthhhhhh....." katanya lirih.
Kedua tangannya mencengkram pinggangku.
"Tahan dikit ya sayangghhhh..." jawabku.

Kutarik dulu batang kontolku, dan kudorong lagi pelan, kali ini masuk agak lebih dalam lagi.
Sleeeeepppppp.......

"Aaaaakkkhhhhhh.....bapaaaakkhhh....!" katanya lirih lagi.
Kutarik lagi kontolku, dan kutekan lebih dalam lagi. Terasa sempit sekali memek Nani ini. Memang benar-benar masih perawan.

"Aaaaakkhhhhhhh..........paaakkhhh...sakiiitttthhhhhh....!" sambil wajahnya dipalingkan ke kiri dan kanan.
Aku tak peduli lagi dengan lirihannya, kutarik sekali lagi, dan akhirnya kuhunjamkan kontolku dengan maksimal dan sedikit keras.

'Ssleeeeeppppp.....!' kurasakan kontolku merobek selaput dara dalam memeknya.
"Aaaaauuuuukkhhhh.......!bapaaaaakkk....!" Pekik Nani tertahan, sambil kedua tangannya mencengkram erat punggungku.

Masuk semua batang kontolku kedalam memek Nani.

'aaaaaahhhhhh...nikmat sekali...akhirnya kuperawani Nani, pembantuku yang sexy ini...' dalam hatiku.
Aku membiarkan posisi ini sejenak, melihat wajahnya. Dengan perlahan matanya mulai membuka dan Nanipun menatapku sayu. Pandangan sayu kami saling beradu.
"Sakit banget tau paaakkkhhh...." katanya lirih.

"Iya Naanhh...tahan dikit yaahh...sebentar lagi sakitnya ilang kok.." kataku menenangkannya, sambil mengusap rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya.

Akupun kembali mencium bibirnya. Nani tidak segera membalas ciumanku, dia hanya diam saja, serasa ingin menunjukkan rasa sebelnya padaku.

Tapi tak berapa lama setelah bibir dan lidahku bermain di bibirnya, Nani mulai terhanyut dan membalas ciumanku, lidah kami saling berpagut, bibir kami saling hisap, tangannya mulai merangkul leherku, dan matanya memejam. Nani sudah mulai melupakan rasa sakitnya.

Kemudian dengan pelan kutarik pinggangku sedikit, dan kutanam lagi dengan perlahan hingga mentok.
"Hhhmmppfffhhhh..." gumamnya sambil kami terus berciuman.

Tangannya mencengkram leherku, kemudian melemas. Sekali lagi kutarik kontolku, dan kutanam lagi.
"Hhhmmmppppfffhhh...." gumamnya lagi.

Kulakukan berulang dengan intensitas yang pelan dan lembut, sampai kurasakan tangannya tidak lagi mencengkram leherku dengan keras. Menandakan bahwa Nani sudah tidak kesakitan lagi.
Kulepaskan pagutan bibirku dari bibirnya dan sapuan bibirku turun ke lehernya, sambil terus menggenjotnya pelan.

"Hhhhgghhhh..hhggghhh...aaahhh...hhhgghhhh...bapaakkhh...mmmgghh.." desahnya.
"Enak sayanghhhh....?" bisikku sambil menciumi dan menjilati telinganya.

"Hhhgghhhh...bapaaaakkhhh...aahhh.." hanya desahan yang terdengar dari bibir sexy nya.
Kakinya sudah mulai melingkar di pantatku yang bergerak naik turun dengan perlahan tapi pasti. Memeknya terasa licin namun terasa begitu mencengkram kontolku. Dinding-dinding memek lembutnya mencengkram kontolku dengan padat, lembut dan erat.

Sungguh sensasi yang sangat luar biasa sekali bersetubuh dengan pembantuku ini.
Kuhentikan genjotanku dan kuangkat tubuhku hingga tegak didepannya. Kulihat batang kontolku penuh dengan darah perawan Nani.
"Bentar ya nan.." kataku.

Kulepaskan kontolku dari memeknya dan aku mengambil tissu yang ada dimeja makan, untuk mengelap kontolku. Tissu itu penuh dengan darah.

"Bapaaakhhh..." kata Nani lirih ketika melihatnya.
"Ngga papa sayang.." kataku sambil mengambil tissu lagi dan kali ini aku mengelap memek Nani yang juga penuh dengan darah perawannya.
Untung saja tidak ada darah yang mengalir ke sofa.

Kubersihkan memeknya dengan tissu sampai bersih, dan kemudian kucampakkan ke saja kelantai.
Kemudian aku meludah kecil ditanganku, dan mengoleskan dan meratakannya dikontolku. Lalu kupegang batang kontolku, dan kutempelkan lagi kepala kontolku di bibir memek Nani. Kembali lagi kuusap-usap bibir memeknya dari bawah ke atas, kuputar-putar sebentar, lalu kutancapkan kepala kontolku di memeknya.

Kemudian aku dorong kontolku kedalam memeknya, dan kali ini langsung amblas kontolku kedalam memeknya.

Sleeeeeepppp.....
"Aaaaakkkhhhhh....bapaaaaakkkhhh.......!" desahnya tertahan.
"Hhhggggghhhh....." gumamku.

Kontolku sudah amblas dalam memek Nani.

Kuatur posisi untuk menggenjotnya. Badanku tegak didepan selangkangan Nani dan bertumpu pada kedua lututku. Kedua tanganku memegang kedua lutut Nani bagian dalam dan menahannya ke arah ketiaknya, sehingga kedua kakinya menekuk dalam.

Posisi Nani sekarang sudah mengangkang dengan sempurna. Memeknya menyembul dan semakin terlihat tembem dengan adanya kontolku di dalamya.
Lalu dengan perlahan mulai kugenjot memeknya.

Sleeeeppp... sleeeeeeppp... sleeeeepppp...sleeeeeppppp..
"Aaaahhhh...aaaahhh..mhhhh...paaaakkkhhhh...hhhggghhhhhh...ssssssshhhhh...aaaaaahhh...." Nani meracau sambil kepalanya menoleh kekanan dan ke kiri.

Matanya terpejam, kedua tangannya memegang perutku, seakan menahan gerakan genjotanku.
Kulepaskan pegangan tanganku dari kaki Nani dan kuarahkan kedua tanganku ke kedua toket besarnya yang menganggur. Kuremas-remas kedua toketnya, sambil terus menggenjotnya.
Sleeeppp... sleeeeeeppp.. sleeeeeepp...

Sudah tidak ada darah lagi yang kulihat dari memeknya. Selain itu, kulihat Nani juga sudah mulai menikmati permainanku ini. Rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang, berubah menjadi perasaan nikmat tiada tara.
"Hhggghhh...hhgggghhh...hhhggghhh..uuuhhh...yeah babyyhhhh....aaahhhh..." racauku pelan sambil menggenjotnya terus.

Sleep.. seleepp.. sleepp.. semakin lama genjotanku semakin cepat.
"Aaahhhh... bapaaakhhh... aaahhh... hhgghhhh... paaaakkhh.. bapaaaakkkhhh..." desah Nani.
"Enak sayanghhhh....?" Tanyaku sambil tetap menggenjotnya.

"Iya paaakkkhh...aaahhhh...bapak sayangghhhh....." desahnya lagi.
Nani sudah mulai keenakan dengan kentotanku.

Kutindih kembali tubuh Nani, dan kupagut lagi bibirnya, kuciumi lehernya, kujilati lagi telinganya sambil menambah kecepatan gejotanku.

"Enak bangeth memekmu sayaangghhhh...aaaaahhhh..." bisikku ditelinganya.
Akupun sudah mulai memancingnya untuk bicara jorok, karena hal ini menurutku menambah sensasi berbeda dalam berhubungan sex.

Nani diam saja sambil tangannya memelukku erat, kedua kakinya melingkar dipantatku.
"Paaaaaaakkkhhhhhh.......aaaaaaahhhhh....." Nani mengerang keenakan.

15 menit lamanya kugenjot Nani dengan gaya misionaris ini, keringatku bercucuran bercampur dengan keringat Nani yang juga tidak sedikit keluar. Badan kami saling bergesekan, pentil dan toketnya tertekan dadaku, sungguh nikmat sekali.

Semakin lama genjotanku dimemeknya semakin cepat dan pasti. Nani semakin kelojotan, pelukannya semakin erat. Aku tau Nani sudah mau mencapai klimaksnya. Semakin cepat kugenjot, semakin erat Nani memelukku.

"Pppaaaaaakkkhhhhhh...aaakkkhhhhh......." desahnya tertahan.
Sleeeeeeppp....!

Kutanam dalam-dalam kontolku, kuhentikan genjotanku dan kupeluk erat tubuh Nani. Bersamaan dengan itu badan Nani mengejang berulang-ulang.

"Hhggggghhhh...!hhggggghhh..!mmmmgghhh...!" gumam Nani saat mengeluarkan cairan kenikmatannya.
"Hhhhhhhhhh.......mmhhhhhh..aaaaahhh...." desahnya lagi sambil melemaskan pelukannya ditubuhku.
"Enak nanh...?" tanyaku sambil menatap mata sayunya.

"Hee eh paakhhh...enak banget bapak sayanghh...hhh..." jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Sekarang gantian bapak yaa..bapak belum keluar.." kataku padanya.

Aku menggenjotnya lagi, sambil kupeluk erat tubuhnya, berkonsentrasi untuk segera mengeluarkan cairan maniku. Semakin cepat genjotanku, semakin terasa memuncak nafsuku untuk menggoyang tubuh Nani.
"Aaaaahhhh...bapaaaakhhhh...aakhhhh...hhhmmhh.." suara Nani terdengar ditelingaku.

"Aaahhhh...enak bangeth nannhhhh....shiiitttt....." akupun terus menggenjotnya.
"Enak bangeth memekmu naanhh...." bisikku lagi ditelinganya.

Aku merasakan kontolku sudah hampir muncrat. Kupercepat lagi kentotanku, genjotan-genjotan yang cepat dan dalam, sampai akhirnya aku tak mampu menahannya lagi.

"Aaaaaaaakkhhhh...naaaaannnhhhh...bapak mau keluaarrrhhh..aaaahhhh...." racauku sambil mencabut kontolku.

"Aaaakkhhhhhh.........!" desahku tertahan dan dengan cepat dan kuarahkan kontolku di depan toketnya sambil mengocoknya dengan tangan kananku.

Creeettt...creettttt...creeetttt..creetttt....! keluar semua maniku di toket Nani.
Semua cairan dalam tubuhku serasa keluar pada saat itu. Badanku basah, penuh dengan keringat kenikmatan.

"Aaaaaaaahhhhhhhh....hhhhmmmmhhhhhhh......" gumamku lagi.

"Hhhhhgghhh..bapakhhh...panas iiiihhhh...." katanya sambil melihat air maniku berceceran di toketnya.
"Hhhh..bentar ya sayanghhh..." jawabku seraya mengambil tissu yang ada di meja makan.
"Sini..bapak lap.." kataku lagi sambil mengelap air maniku ditoketnya, dan membuangnya kelantai.
Aku mencium bibir Nani sebentar kemudian merebahkan badanku duduk di sofa kembali.
Lemas sekali badanku kurasakan. Sungguh luar biasa.

Nanipun mengikutiku merebahkan dirinya disofa dan bersandar di dadaku kembali.
Kulihat jam sudah pukul 3 sore. Belum sempat kami mengobrol, aku mendengar suara mobil ku datang.
"Pak ata..!" kataku kepada Nani.

Tanpa menjawab Nani langsung loncat dari pelukanku dan kamipun bergegas memunguti baju kami. Aku memungut tissu-tissu yang tercecer dilantai, memungut bajuku dan masuk kedalam kamar mandiku.
Nanipun memunguti bajunya dan masuk kedalam kamarnya.

Kubuang semua tissu bekas darah perawan Nani dan bekas maniku kedalam toilet, lalu kusiram hingga hilang. Sambil tak lama kudengarkan dari kamar mandi, suara Nani menyambut Diana dan Pak Ata yang datang berdua.

Sore itu kami berdua berlaku sangat wajar didepan Pak Ata dan Diana. Tidak ada pembicaraan atau tindakan yang mencurigakan dari kami berdua didepan orang lain. Meskipun baru saja aku merenggut keperawanannya, dan selanjutnya kedua tubuh bugil kami bersatu, saling memuaskan satu sama lain, saling meraih peluh-peluh kenikmatan duniawi, disofa ruang keluargaku yang akan tetap menjadi saksi bisu dari sebuah pergumulan terlarang.

Beberapa saat bercengkrama dengan Diana, rasa kantuk mulai menyerangku, akupun memutuskan untuk masuk kedalam kamarku untuk mengistirahatkan badanku yang kelelahan.
Loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cersex Terbaru, Selingkuh dengan Nina Pembantuku Part 2"

Posting Komentar